Pemudanusantaranews.site//Morotai —Jelang HUT ke-81 yang diselenggarakan di kabupaten Pulau Morotai, kini publik kembali digegerkan masalah abrasi pantai yang semakin mengancam Desa Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai. Selain menggerus daratan, abrasi juga diduga menyebabkan sumber air bersih warga tercemar air laut. Hal ini semakin menyita perhatian publik setelah sekitaran 600 jiwa warga Kolorai kini menghadapi ancaman abrasi sekaligus kesulitan mendapatkan air bersih. Warga mengaku terpaksa membeli air galon dari wilayah Daruba untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pasalnya Salah satu warga Kolorai, Ical, mengatakan abrasi di desanya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (14/8/2026), jarak antara permukiman warga dengan garis pantai kini semakin dekat.
“Dulu jarak rumah warga dan fasilitas umum dengan bibir pantai sekitar 20 meter. Sekarang tinggal kurang lebih 4 meter,” ujar Ical.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin berbahaya ketika terjadi gelombang tinggi. Air laut dapat dengan mudah masuk ke halaman hingga permukiman warga.
Tak hanya mengancam rumah dan fasilitas umum, abrasi juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Intrusi air laut disebut telah menyebabkan air sumur warga berubah menjadi asin dan tidak lagi layak digunakan.
“Kami sudah tidak lagi mendapatkan air bersih karena air laut sudah tercampur dengan sumber air tawar. Kami terpaksa pergi ke Daruba untuk membeli air galon,” katanya.
Ancaman abrasi diperparah dengan rusaknya bangunan pemecah ombak atau breakwater yang dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sekitar 2007–2008.
Warga menyebut kondisi bangunan tersebut kini mengalami kerusakan parah, bahkan diperkirakan mencapai sekitar 90 persen. Akibatnya, tidak ada lagi perlindungan yang memadai untuk menahan gelombang laut sebelum mencapai permukiman.
Ical mengatakan persoalan abrasi di Kolorai bukan masalah baru. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar 12 tahun, namun hingga kini warga belum melihat penanganan yang berkelanjutan dari pemerintah daerah.
“Sudah bertahun-tahun, tetapi pemerintah daerah belum memperhatikan kondisi Desa Kolorai. Kami berharap ada langkah nyata karena ini menyangkut keselamatan dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Warga meminta Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai segera melakukan asesmen terhadap kondisi abrasi, kerusakan pemecah ombak, serta dampaknya terhadap sumber air bersih.
Mereka juga berharap pemerintah segera membangun kembali infrastruktur perlindungan pantai yang lebih kuat dan sesuai kondisi pesisir Kolorai.
“Kalau penghalang ombak tidak segera dibangun, kami khawatir Desa Kolorai semakin tergerus dan dalam jangka panjang bisa kehilangan daratan,” tegas Ical.
Warga berharap persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan instansi teknis terkait, sehingga penanganan tidak dilakukan setelah permukiman warga mengalami kerusakan lebih parah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai terkait langkah penanganan abrasi dan krisis air bersih di Desa Kolorai.
Reporter:fh
Editor redaksi